beritaposonline
Headlines News :
    beritaposonline
    beritaposonline
    Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah. Tampilkan semua postingan

    Contoh resume

    Contoh resume
    Contoh resume daftar riwayat hidup bahasa Indonesia berikut ini bisa Kamu contoh penyusunannya.Semoga bisa membantu dan segera diterima kerja ditempat sesuai dengan posisi yang Kamu harapkan.
    Yang ini: Contoh surat Lamaran Kerja

    Daftar Riwayat Hidup


    Data Pribadi
    Nama : Agung Permana
    Jenis kelamin : Laki laki
    Tempat, tanggal lahir : Blitar, 5 Agustus 1983
    Kewarganegaraan : Indonesia
    Status perkawinan : Menikah
    Tinggi, berat badan : 170 cm, 80 kg
    Kesehatan : Sangat Baik
    Agama : Islam
    Alamat lengkap : Perum Pondok Bambu, Blok G No.2, Blitar 54432
    Telepon, HP : 0342 - 11442255, HP = 0857 445 054 203
    E-mail : emailku@email.com

    Pendidikan
    Formal
    1992 - 1998: SD Negri Blitar 4, Blitar
    1998 - 2001 : SMP Negeri 2, Blitar
    2001 - 2003 : SMU Negeri 4, Blitar
    2003 - 2007 : Program Sarjana (S-1) Akuntansi Universitas Merderka, Malang

    Non Formal
    2007 - 2008 : Kursus Komputer dan Internet di Inet Course, Blitar
    2007 - 2009 : Kursus Bahasa Inggris di English Course Blitar, Blitar



    Kemampuan
    Kemampuan Akuntansi dan Administrasi (Journal Printing & Calculation, Ledger, Petty Cash Payroll & Calculation, Inventory Controls, Project Data Updating, Teller, Salary Caldulation).
    Kemampuan Komputer (MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook).
    Kemampuan Internet.



    Pengalaman Kerja
    Bekerja di PT. Mangga Muda, Jakarta
    Periode : Agustus 2008 - Januari 2011
    Status : Pegawai Tetap
    Posisi : Staf Akuntansi


    Uraian singkat pekerjaan :
    - Mengontrol persediaan dan pembelian peralatan kantor.
    - Turut membantu pembuatan laporan keuangan perusahaan
    - Mengatur jadwal pertemuan bisnis, pertemuan internal, dan perjalanan bisnis.
    - Melakukan surat-menyurat bisnis dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris (via internet maupun non internet).
    - Menerbitkan dan menerima faktur dari pemasok.
    - Turut membantu pelatihan pegawai baru.


    Blitar, 11 April 2012

    TTD


    Agung Permana

    curriculum vitae bahasa inggris

    Curriculum vitae bahasa inggris
    Curriculum Vitae (CV) adalah atau banyak disebut juga dengan resume dan kalau generasi dulu lebih mengenal dengan istilah Daftar Riwayat Hidup.
    Berikut ini adalah Contoh CV bahasa inggris yang bisa kamu contoh susunannya dan saya harap ini bisa membantu Kamu.


    Curriculum Vitae


    Personal Details
    Full Name : Eddy Kawilarang
    Sex : Male
    Place, Date of Birth : Malang, December 7, 1983
    Nationality : Indonesia
    Marital Status : Married
    Height, Weight : 170 cm, 80 kg
    Health : Perfect
    Religion : Moslem
    Address : Perum Araya Bumi Megah, Blok a No.32, Malang 65125
    Mobile : 0815 554 353 203
    Phone : 0341 - 9999999
    E-mail : emailku@email.com


    Educational Background
    1985 - 1991 : Elementary School Blimbing No.3, Malang
    1991 - 1994 : Junior High School No.3, Malang
    1994 - 1997 : Senior High School No.1, Malang
    1997 - 2001 : Accounting Department at the University of Brawijaya, Malang



    Course & Education
    2001 - 2002 : Computer & Internet Course at Computerisa Course, Malang
    2002 - 2004 : English Language Course at English Course, Malang


    Qualifications
    Accounting & Administration Skills (Journal Printing & Calculation, Ledger, Petty Cash Payroll & Calculation, Inventory Controls, Project Data Updating, Teller, Salary Caldulation).
    Taxation System.
    Computer Literate (MS Word, MS Excel, MS Power Point, MS Access, MS Outlook).
    Internet Literate.



    Working Experience
    Working at PT. Siaga Malam, Surabaya
    Period : August 2007 - January 2012
    Purpose : Permanently working
    Position : Accounting & Taxation staff



    Job's Description : Payroll Staff;
    - Project's data updating;
    - Business correspondences;
    - Expatriates documentation filling & follow up;
    - Translation;
    - Appointment arrangement;
    - Filling anda data updating;
    - Arranged of business trip schedule;
    - Meeting budget arrangement;
    - Procurement filling, inventory control, and administration asistant;
    - Preparing for breakdown statement for the project, preparing intern finance circular - Correspondences, and preparing for the presentation materials;
    - Issuing invoice & receipt for vendor and customers;
    - Inventory Controller;
    - Preparation of purchase requirement and purchase order;
    - Invoice & payment arrangement.




    Malang, January 21, 2012

    (TT)

    Eddy Kawilarang

    Contoh makalah Pancasila

    Contoh makalah Pancasila | Tesis Pancasila
    Berikut contoh penyusunan makalah tentang Pancasila,sebagai bahan referensi buat kamu yang mau menngerjakan tugas/karya tulis.
    Hanya sebagai contoh dan referensi.
    Judul Makalah Pancasila Potensi Disintegrasi Nasional

    Daftar Isi :
    Latar belakang
    permasalahan
    Rumusan masalah
    pembahasan
    Orde Baru dan “Bom Waktu” Disintegrasi
    Demokrasi
    Desentralisasi
    Integrasi
    Kesimpulan
    Saran.

    Cuplikan Isi:

    Sekilas Isi :

    A. Integrasi : Perspektif Teoritis
    Konsep integrasi biasanya menunjuk pada upaya penyatuan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda secara sosial, budaya, maupun politik ke dalam satu kesatuan wilayah untuk membangun kesetiaan yang lebih besar dan bersifat nasional.
     Dalam hal ini integrasi dipandang sebagai usaha meniadakan kesetiaan-kesetiaan picik dan ikatan-ikatan sempit dalam rangka membangun kesetiaan dan ikatan yang lebih luas ke arah pembentukan identitas sosio-kultural dan politik yang bersifat nasional.
     Selain itu, istilah integrasi sering juga dipergunakan untuk menunjuk pada upaya membangun suatu otoritas atau kewenangan nasional; penyatuan pemerintah dengan yang diperintah; konsensus tentang nilai-nilai kolektif; dan soal kesadaran setiap anggota masyarakat untuk memperkokoh ikatan di antara mereka.
    Menurut James J. Coleman dan Carl G. Rosberg, ada dua dimensi utama konsep integrasi, yaitu integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Integrasi vertikal sering disebut sebagai integrasi politik yang mencakup masalah yang timbul dalam hubungan negara dengan masyarakat. Sedangkan integrasi horizontal lebih bersifat kultural dan karena itu mencakup persoalan ketegangan hubungan diantara berbagai kelompok kultural di dalam masyarakat itu sendiri.
    Namun demikian, Myron Weiner tidak sepenuhnya setuju pada pembedaan secara tajam antara integrasi vertikal di satu pihak dan integrasi horizontal di lain pihak. Ia justru memandang penting semua aspek integrasi yang mencakup 5 (lima) persoalan sekaligus, yaitu integrasi bangsa, integrasi wilayah, integrasi elite massa, integrasi nilai, dan perilaku integratif.
    Kelima aspek integrasi inilah yang disebut oleh Weiner sebagai integrasi politik. Dengan pemahaman demikian, Weiner tampaknya memandang bahwa integrasi politik tidak akan pernah bisa dicapai apabila salah satu dari kelima aspek integrasi tersebut diabaikan.
    Sementara itu menurut Howard Wriggins, terdapat sekurang-kurangnya lima faktor yang menentukan berhasilnya integrasi bangsa.
    Faktor-faktor itu adalah:
    (1) upaya penciptaan musuh bersama dari luar.
    (2) gaya politik para pemimpin yang memperkecil perbedaan, dan pemberian penghargaan serta rasa hormat terhadap semua suku bangsa yang berbeda-beda.
    (3) lembaga-lembaga politik, partai politik, dan birokrasi nasional, termasuk militer, yang aspiratif, luwes dan akomodatif terhadap perbedaan dan keanekaragaman daerah.
    (4) ideologi nasional yang menentukan tujuan dan cara-cara pencapaiannya.
    (5) pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada perluasan kesempatan bagi semua orang secara adil

    Selengkapnya download versi doc microsoft words
    Download

    Contoh makalah kebudayaan

    Contoh makalah kebudayaan | contoh skripsi kebudayaan
    Berikut bagi kamu yang mencari contoh makalah yang berkaitan dengan kebudayaan,sebagai referensi dalam penyelesaian tugas kamu.

    Contoh makalah berjudul:Makalah Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam.

    Kami berikan sebagian contoh isi dan contoh penyusunan/penjilidannya saja,selebihnya bisa kamu kembangkan sendiri.Ini hanya sebagai contoh saja.

    Daftar Isi :

    KATA PENGANTAR

    DAFTAR ISI

    BAB I PENDAHULUAN
    1.1. Latar Belakang
    1.2. Rumusan Masalah
    1.3. Tujuan Masalah

    BAB II PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN DAN PENYEBARAN AGAMA ISLAM
    2.1. Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam Serta Perwujudan Akulturasinya di Indonesia (Bagian I)
    2.2. Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam Serta Perwujudan Akulturasinya di Indonesia (Bagian II)
    2.3. Kerajaan Indonesia Yang Bercorak Islam Serta Aspek-aspek Kehidupan di Segala Bidang.

    BAB III PENUTUP
    3.1. Kesimpulan
    3.2. Saran

    DAFTAR PUSTAKA.


    Cuplikan isi makalah:
    2.1. Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam Serta Perwujudan Akulturasinya di Indonesia (Bagian I)
    Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan para pedagang di berbagai negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak Indonesia pada jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Melalui perdagangan tersebut, masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-1 sampai abad ke-8 Masehi. Sebagian ahli yang lain menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru sejak abad ke-13.
    Pernyataan ini didasarkan pada masa runtuhnya dinasti Abasiyyah di Baghdad (1258) dan didasarkan pada berita dari Marcopolo (1292).
    Walaupun demikian dapat diperkirakan bahwa agama Islam sudah masuk di Nusantara pada abad ke-8 dan pada abad ke-13 agama Islam sudah menyebar di beberapa daerah di Sumatra, daerah pantai Semenanjung Malaka, juga beberapa daerah di Pulau Jawa.
    Teori pembawa Islam ke Indonesia :
    1) Melalui pedagang Gujarat
    Berdasarkan kesaksian Marcopolo yang menyatakan bahwa dalam kunjungannya ke Perlak pada tahun 1292, ia menyaksikan pedagang Gujarat yang menyiarkan agama Islam.
    2) Melalui pedagang Persia
    Dari para pedagang ke dua suku (suku Laren dan Jawi) itulah yang mengajarkan huruf Arab di Pulau Jawa yang dikenal dengan huruf Arab Pegon. Adanya pasang dalam bahasa Arab yang disebut jabar jer. Istilah ini termasuk bahasa Iran yang dalam bahasa Arab disebut fathah kasroh.
    Selain dari itu pada bulan Muharram, Husein putra Ali meninggal di Harbala. Di Persia upacara peringatan meninggalnya Husein ditandai dengan mengarak peti yang disebut tabut. Oleh karena itu, bulan Muharram dikenal dengan sebutan bulan tabut, oleh masyarakat Aceh dan masyarakat Minangkabau. Hal itu menunjukkan adanya pengaruh Persia.
    3) Masuknya Islam melalui pedagang Arab atau Mesir
    Dua alasan yang dikemukakan oleh Hamka adalah sebagai berikut :
    a. Raja-raja Pasai menganut madzhab Syafi’i. Penganut madzhab Syafi’i yang terbesar pada saat itu berasal dari masyarakat Mesir dan Mekkah. Bila agama Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia, tentu banyak masyarakat Indonesia yang menganut aliran Syiah seperti Persia atau bermadzhab Hanafiah seperti di India.
    b. Gelar Malik yang digunakan raja-raja Samudra Pasai berasal dari Mesir. Sedangkan gelar Syah yang berasal dari Persia baru digunakan oleh raja Malaka pada awal abad ke-15.

    Contoh makalah kesehatan

    Contoh makalah kesehatan|skripsi kesehatan
    Sedang mencari artikel contoh makalah kesehatan?..
    Berikut adalah contoh penyusunan makalah tentang kesehatan masyarakat,mungkin bisa menjadi contoh buat kamu yang baru memulai tugas ini.
    Contoh makalahkesehatan ini berjudul SKRIPSI PERSEPSI PASIEN JAMKESMAS TERHADAP KEPUASAN PELAYANAN RAWAT INAP DI RSUD X


    BAB I
    PENDAHULUAN


    1.1 Latar Belakang
    Undang-undang Nomor 36 tahun 2009, Bab VI pasal 46 dan 47 bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Untuk keberhasilan upaya pembangunan kesehatan tersebut maka masyarakat perlu diikuti sertakan agar berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.
    Dalam konsitusi dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Bab IV tentang rumah sakit bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk dalam hal ini menjamin pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
    Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin (Mukti, 2008).
    Peserta Program JAMKESMAS adalah setiap orang miskin dan tidak mampu selanjutnya disebut peserta JAMKESMAS sejumlah 76,4 juta jiwa bersumber dari data Badan Pusat Statisti (BPS) tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara Nasional oleh Menteri Kesehatan RI (Menkes), Jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu di Indonesia untuk Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2009 sebesar 18.963.939 rumah tangga miskin, 76.400.000 jiwa anggota rumah tangga miskin sedangkan anak-anak terlantar, panti jompo dan masyarakat tidak memiliki KTP sebanyak 2.629.309 jiwa. Propinsi X sendiri 944.972 rumah tangga miskin dan 4.124.247 jiwa anggota rumah tangga miskin dan Kabupaten X 158.194 jiwa masyarakat miskin.
    Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin melalui Program Jamkesmas belum optimal. Lembaga Swadaya Masyarakat itu menyatakan, meski hasil survei menunjukkan sebagian besar peserta Jamkesmas (83,2 persen) menyatakan puas dengan layanan yang diberikan namun masih ada peserta yang tidak puas dengan pelayanan dokter (5%), perawat (4,7 %) dan petugas kesehatan sebanyak 4,7%. Hasil observasi ICW juga menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta Jamkesmas belum baik jika dilihat berdasarkan panjangnya antrian berobat, sempitnya ruang tunggu, dan lamanya peserta dalam menunggu waktu operasi. Beberapa pasien Jamkesmas mengeluhkan kekecewaan yang terkait dengan rumitnya proses administrasi untuk mengurus persyaratan Jamkesmas, sikap perawat dan dokter yang tidak ramah, lamanya waktu menunggu tindakan medis atau operasi dan fasilitas ruang rawat yang terbatas, bahkan berita penolakan terhadap pasien Jamkesmaspun sering terdengar.
    Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Peran stategis ini diperoleh karena rumah sakit adalah fasilitas kesehatan yang padat teknologi dan padat pakar (Aditama, 2003).
    Ada beberapa hal di rumah sakit yang berperan dalam kepuasan pasien antara lain adalah pelayanan dokter dan perawat, pelayanan administrasi, kualitas ruangan yang diberikan rumah sakit serta ketersediaan sarana penunjang medis dan non medis. Kepuasan pasien adalah tingkat kepuasan pelayanan pasien dan persepsi pasien/keluarga terdekat. Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap pasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien/keluarganya, ada perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan tanggap kepada kebutuhan pasien. sehingga tercapai keseimbangan yang sebaikbaiknya antara tingkat puas atau hasil dan derita-derita serta jerih payah yang harus dialami guna rnempeoleh hasil tersebut (Awinda, 2004).
    Menurut Imbalo (2003), Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya. Sedangkan Junaidi (2002) berpendapat bahwa kepuasan konsumen atas suatu produk dengan kinerja yang dirasakan konsumen atas poduk tersebut. Jika kinerja produk lebih tinggi dari harapan konsumen maka konsumen akan mengalami kepuasan (Denipurnama, 2009).
    Tuntutan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya berkaitan dengan kesembuhan dari penyakit, tetapi juga menyangkut persepsi pasien terhadap kualitas keseluruhan proses pelayanan yang termasuk ke dalamnya ketersediaan sarana dan prasarana rumah sakit guna guna memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. Dengan demikian keberhasilan suatu rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan medis tetapi juga ditentuka oleh fasilitas pelayanan rumah sakit dan non medis (Andriani, 2005).
    Hasil penelitian Ferdinand (2006) di RSU F.L.Tobing bahwa 80 % responden JPKMM menyatakan puas terhadap pelayanan perawatan. Penelitian Gita Ardina (2008) menunjukkan bahwa pelayanan Jaminan Kesehatan masyarakat (Jamkesmas) di RSD. Ryacudu Kotabumi dilaksanakan sesuai dengan pedoman pelaksanaan Jamkesmas 2008, baik itu mengenai syarat dan prosedur pelayanan, pemberian obat-obatan, serta pelayanan dari petugas medis. Namun dalam pelayanan Jamkesmas di RDS. Ryacudu Kotabumi masih terdapat hambatan-hambatan dalam pelayanannya, antara lain terbatasnya sarana dan prasarana penunjang pelayanan medis, kemudian kurangnya sosialisai pemerintah terhadap masyarakat mengenai syarat dan prosedur pelayanan Jamkesmas di RSD. Ryacudu Kotabumi. Sehingga masih dibutuhkan penyempurnaan agar tercapai derajat kesehatanmasyarakat yang optimal secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan penyelenggaraan program Jamkesmas.
    Penelitian di RSU dr.Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 13 April 2009 melalui survey dengan menggunakan kuesioner kepada 30 responden (pasien umum) yang dirawat di Instalasi rawat inap (ruang penyakit dalam dan ruang rawat bedah) mengungkapkan dokter sering telat masuk sebesar 53%, perawat kurang ramah sebesar 46%, perawat jaga sering tidak mengontrol pasien setiap pergantian jaga sehingga pasien sering terbengkalai sebesar 16%, perawat lamban dan kurang tanggap dalam melayani pasien sebesar 63% dan pemberian obat kepada pasien sering tidak tepat waktu 36% (Tuti, 2010).
    Keputusan Menteri Kesehatan RI No 228/MENKES/SK/III/2002, Bahwa rumah Sakit sesuai dengan tuntutan daripada kewenangan wajib yang hams dilaksanakan oleh rumah sakit propinsi/kabupaten/kota, maka hams memberikan pelayanan untuk keluarga miskin dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
    Rumah Sakit Umum Daerah X Kabupaten X mempakan mmah sakit tipe C dengan kapasitas 105 tempat tidur dan pusat rujukan dari empat Kabupaten. Rumah Sakit X telah banyak mengalami pembahan terlihat dari bangunan begitu mewah dan fasilitas yang sudah memenuhi standart. Sampai saat ini pasien rawat inap yang datang menggunakan kartu JAMKESMAS semakin meningkat jumlahnya. Hal ini menunjukkan bahwa mmah sakit ini sudah melaksanakan tujuannya sebagai mmah sakit mjukan.
    Berdasarkan survei awal di RSUD X Kabupaten X dapat diketahui indikator pelayanan rawat inap berikut yaitu pada tahun 2009 BOR (88,17%), AvLOS (4,12%), BTO (6,53%), TOI (0,58%), GDR (51,68%) dan NDR (36,03%) dan pada tahun 2010 mulai dari januari sampai juni BOR (78,40%), AvLOS (3,61%), BTO (6,77% ), TOI (0,98%), GDR (54,73%) dan NDR (13,86%). Pasien JAMKESMAS yang dirawat inap pada tahun 2009 adalah 2565 orang dan pada tahun 2010 sampai bulan juni sebesar 1034 orang. Pasien rawat inap biasanya dirawat antara 3-7 hari dengan keluhan yang berbeda-beda.
    Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, penulis menemukan beberapa permasalahan yang menyangkut pelayanan kesehatan yang diberikan oleh RSUD X Kabupaten X kepada pasiennya. Hal ini terungkap karena penulis sering kali mendengar keluhan dari beberapa pasien umum bahwa belum memuaskannya pelayanan yang diberikan baik dari segi kualitas perlengkapan maupun kualitas pelayanan lainnya seperti pelayanan medik, pelayanan obat-obatan, dan pelayanan administrasi.
    Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa RSUD X Kabupaten X selaku lembaga yang melaksanakan pelayanan kesehatan terindikasi kurang memberikan pelayanan kesehatan yang memuaskan kepada pasien umum yang menanggung biaya rumah sakit sendiri. Bila pasien yang Non JAMKESMAS saja pelayanan yang diberikan kurang memuaskan bagaimana lagi layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang termasuk pengguna JAMKESMAS.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana persepsi pasien JAMKESMAS terhadap kepuasan pelayanan rawat inap di RSUD X.

    1.3 Tujuan Penelitian
    1.3.1 Tujuan Umum
    Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi pasien JAMKESMAS terhadap kepuasan pelayanan rawat inap di RSUD X Kabupaten X.
    1.3.2 Tujuan Khusus
    1. Untuk mengetahui faktor internal yang mempengaruhi persepsi pasien JAMKESMAS (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan jenis penyakit) yang dirawat inap di RSUD X Kabupaten X.
    2. Untuk mengetahui persepsi pasien JAMKESMAS terhadap kepuasan meliputi tangibles/nyata, reliability/keandalan, responsveness/ketanggapan, assurance/jaminan dan empaty/sikap peduli pelayanan rawat inap di RSUD X Kabupaten X.

    1.4 Manfaat Penelitian
    1. Sebagai bahan masukan kepada RSUD X Kabupaten X dalam menanggulangi dan meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap pasien JAMKESMAS.
    2. Sebagai bahan masukan bagi penulis dalam menambah kemampuan dan pengetahuan selama menempuh pendidikan.
    3. Sebagai bahan masukan untuk peneliti-peneliti yang akan datang.

    Contoh makalah bahasa inggris

    Contoh makalah bahasa inggris|skripsi bahasa inggris
    Artikel berikut merupakan contoh penyusunan makalah bahasa inggris,kami tujukan hanya sebagai bahan refrensi dalam hal cara penyusunan dan tata bahasa.
    Contoh makalah bahasa inggris ini mengambil judul  SKRIPSI AN ANALYSIS ON THE SPEAKING CLASSROOM INTERACTIONS AT THE TENTH GRADE OF SMA X.


    CHAPTER I
    INTRODUCTION

    1. Background of the Study
    In the classroom students do their educational activity - learning - but they also do another activity like playing and socializing with their friends. Classroom is a small miniature of wide society filled in with many elements. Classroom is a real social context where its elements (teacher and learner) enter into equally real social relationship each other, but, in the sense of education, it's an artificial environment for teaching, learning, and using a foreign language.
    The process of teaching and learning is the most common element in the language classroom. Language teaching, in a simple word, can be defined as the activities which are intended to bring about language learning. It is assumed that language teaching is proposed to help people to learn and use the language. According to Dewey in Risk (1985 : 6), language teaching is the direction or the guidance of learning. Learning, as every body knows, refers to the acquisition of knowledge and skill. Based on these definitions, then, language learning will be placed in appropriate definition as the learning to have knowledge and skill in language.
    The process of teaching and learning almost occurs in the classroom. Tsui (1995 : 1) defines classroom as a place where more than two people gather together for the purpose of learning, with one having the role of the teacher. Classroom is not a place where the teacher just carries out predetermined routines, but rather than a place where various elements interact one another. These elements are the teacher with their educational background, the students, experience, knowledge, and expectation and also the activity in the classroom.
    Language learning occurs through meaningful interaction. Interaction, then, will certainly involves students. In other words, it can be said that language learning is a two-way interaction between all the elements in class. Those elements handle the same significant role in deciding whether the learning will achieve its aim or not. Each element cannot dominate the others. The teacher, then, handles a significant role in creating an atmosphere that stimulates students to participate in the classroom. The teacher also has to plan certain activities and interactions in order to achieve or produce a particular behavioral outcome.
    According to Anderson, as quoted by Skinner (1984 : 4-6), the teacher's role in the classroom can be described under three broad categories : (1) Selecting and organizing material (The teacher has to select and organize the material to be learned); (2) Guiding and directing learning; and (3) Evaluation to know how well he has done as a teacher and how well his students have learned.
    One important element, besides the teacher, is the students that also play many significant roles. In the language classroom, the students can be positioned as object; but sometime they have to put themselves as subject. It means that they are not only as receiver but also as an independent one who can speak up, give ideas, and contribute to language in the classroom. As Chaudron's opinion (1998 : 9) learners have their own initiative, productivity, and strategies in classroom learning rather than passive absorption of the teachers' information of precise adherence to the performance of classroom activities.
    In the speaking classroom, the teacher and the students have significant roles to the process of teaching and learning. These elements (teacher and students) constantly interact one another in which the teacher and the students are the main subjects. In speaking class, the teacher is not allowed to dominate the class where he keeps talking or giving more question. Each element has as much to contribute as very other participant in determining the direction and outcome of the interaction.
    Interaction simply means communication which implies more than one person. The importance of interaction is explained by Rivers (1981 : 160-162) : "Through interaction, students can increase their language store as they listen to or read authentic material, or even the output of their fellow students in discussion, skits, joint problem solving tasks, or dialogue journals. In interaction, students can use all they possess of the language -all they have learned or casually absorbed - in real-life exchange. Even at an elementary stage, they learn in this way to exploit the elasticity of language" (Brown, 1994 : 159).
    Ellis (1988 : 94) states the role of interaction into following points : (1) when learners are addressed by fully component speakers of language, the latter adjust both the formal and discourse levels of the language they use. Learners also employ certain strategies to enable communication to take place; (2) there is insufficient evidence to decide whether these interactional modifications are responsible for the route learners follow in Foreign Language Development (FLD) or Second Language Development (SLD), although it would seem unlikely that those are the major determining factors. There is an evidence to suggest that the types of learners' interactions developed by the influence of the rate progress; and (3) Interaction contributes to development because it is the means by which the learner is able to crack the code.
    In the speaking classroom, interaction should be encouraged. In other words, it is the teacher's responsibility to promote the interactive language teaching in the class. In the interaction, however, teacher should not dominate the class, instead facilitate students in practicing speaking as much as they possibly can. As Rivers says :
    "For the genuine interaction language learning requires, however, individuals (teachers as well as students) must appreciate the uniqueness of other individuals with their special needs - not manipulating or directing or deciding how they can or will learn, but encouraging them and drawing them out (educating), and building up their confidence and enjoyment in what they are doing". (1987 : 9)
    From the explanation above, we know that interaction in the language classroom is very important in the process of teaching and learning. In the speaking classroom, how the teaching-learning process run well also depends on the interaction between the teacher and the students. Therefore, understanding the interaction happening in the speaking classroom is also very important. Based on the description above, the writer is interested to study the interaction in a language classroom - especially speaking - of the tenth grade in the Senior High School.

    2. Identification of the Problem
    Related to the background of the study, there are some problems that may arise. The writer identifies the problems as follows :
    a. How is the English teaching process at SMA X?
    b. How is the English learning process at SMA X?
    c. How is the interaction between the teacher and the students in the Speaking classroom?
    d. What kinds of feedback does the teacher use in the speaking classroom interaction?
    e. What are the problems faced by the teacher in the speaking classroom interaction?
    f. What can English teacher do to overcome the problems?
    g. How can the teacher and the students overcome the problems?

    3. Limitation of the Problem
    In order to reach the expected goal, the writer limits the problems on the following terms :
    a. The study is limited to the pattern of interaction happening in the speaking classroom.
    b. The writer stresses the analysis on the percentage of teacher's talk and student's talk in the speaking classroom interaction.
    c. The population of the research is limited to the tenth grade students of SMA Negeri X.
    The method used in this study is descriptive method and the data are analyzed by using FLint system.

    4. The Formulation of the Problem
    The problem discussed can be stated as follows :
    a. How is the percentage of the teacher's talk and the student's talk occurring in the speaking classroom interaction?
    b. What patterns of interaction happen in the speaking classroom interaction?
    c. What kinds of problems occur in the speaking classroom interaction?

    5. The Benefit of the Study
    From this study, it is expected that the result of the research can give a contribution to the language teaching and learning in general. To the researcher, many new valuable experiences in language education are useful for her preparation to be an English teacher in the future. To the teacher and the students, this study is very useful because they will get much information related to their activities in the classroom, especially in what patterns are the interactions between the teacher and the students happened in the speaking classroom. The teacher can also identify the problems arising in the speaking interaction and able to overcome them. Hopefully, the description of the interaction in the speaking classroom can give a valuable input to improve the quality of language teaching and learning.

    Contoh Makalah Bahasa Indonesia

    Contoh Makalah Bahasa Indonesia ini disusun hanya sebagai bahan referensi buat kamu yang akan membuat sebuah tesis yang akan kamu susun.Makalah ini mengambil contoh skripsi  Kemampuan Menggunakan Kata Penghubung Dalam Karangan Deskripsi Siswa Kelas V SD-X

    Berikut contoh makalah Bahasa Indonesia dalam skripsi Kemampuan Menggunakan Kata Penghubung Dalam Karangan Deskripsi Siswa Kelas V SD-X.


    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Tata bahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan dalam stuktur bahasa. Stuktur bahasa itu meliputi bidang-bidang tata bunyi, tata bentuk, tata kata, dan tata kalimat serta tata makna. Dengan kata lain bahasa meliputi bidang-bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis (Keraf, 1994:27).
    Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat (Chaer, 2000:140).
    Dari pengertian tersebut, maka kata penghubung sangatlah diperlukan untuk memperjelas kalimat, karena kata penghubung merupakan rambu-rambu bahasa tulis yang berpengaruh dalam pembuatan kalimat atau karangan. Suatu karangan deskripsi akan sulit dimengerti jika dalam karangan deskripsi tidak dibubuhi kata penghubung.
    Siswa sering sekali kurang dalam pemahaman kata penghubung dalam suatu karangan, padahal setiap hari mereka di sekolah pasti akan bertemu dengan kegiatan menulis dan membaca, baik itu membaca buku pelajaran atau menulis suatu karangan.
    Walaupun banyak buku yang mengulas pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, akan tetapi kenyataannya masih sering dijumpai dalam penggunaan kata penghubung yang tidak tepat. Salah satu penyebabnya menurut tata bahasa baku adalah tidak mengenalnya strategi pembuatan kalimat.
    Peneliti mengadakan penelitian di SD X karena SD X adalah salah satu SD Negeri yang ada di kabupaten X sebagai model atau percontohan dalam pengembangan kualitas pendidikan dan pembelajaran serta sebagai pusat sumber belajar bersama dan inovasi penyelenggaraan pendidikan bagi madrasah-madrasah yang ada di sekitarnya.
    Alasan peneliti mengambil siswa kelas V karena siswa kelas V ini masih banyak memerlukan pengetahuan dan wacana yang lebih luas tentang menggunakan kata penghubung yang nantinya dapat diteruskan di kelas VI pada sekolah dasar dan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
    Alasan peneliti menggunakan karangan deskripsi karena karangan deskripsi merupakan karangan yang menggambarkan suatu objek dengan tujuan agar pembaca merasa seolah-olah melihat sendiri obyek yang digambarkan itu. Siswa yang masih duduk di tingkat dasar biasanya sangat suka dengan cerita-cerita yang menggambarkan suatu objek, oleh karena itu peneliti menggunakan karangan deskripsi.

    1.2 Masalah


    1.2.1 Ruang Lingkup
    Pada bagian ini akan peneliti sebutkan macam-macam kata penghubung yaitu: kata penghubung dan, dengan, serta, atau, tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya, malah atau malahan, bahkan, lagipula, apalagi, itupun, jangankan, malainkan, hanya, kecuali, lalu, kemudian, mula-mula, yakni, yaitu, adalah, ialah, bahwa, jadi, karena, karena itu, sebab, sebab itu, kalau, jika, asal, andaikata, meskipun, supaya, agar, ketika, sesudah, sebelum, sejak, untuk, yang, sampai, sambil, seperti, tempat.
    Setelah peneliti mengkaji dan menganalisa karangan deskripsi yang disempurnakan oleh siswa ternyata ditemukan tujuh jenis kata penghubung. Oleh karena itu pada penelitian ini peneliti hanya mengambil tujuh kata penghubung yaitu: yang, dengan, untuk, dan, seperti, jika, karena.
    1.2.2 Pembatasan Masalah
    Karena permasalahan yang berkaitan dengan kata penghubung cukup banyak, maka perlu diadakan pembatasan masalah agar permasalahan tidak berkepanjangan dan nantinya diharapkan menghasilkan pembahasan yang terarah.
    Oleh karena itu dalam karangan deskripsi (yang tanda penghubungnya dihilangkan) yang disempurnakan oleh siswa terdapat tujuh kata penghubung maka permasalahan yang diteliti ini meliputi kemampuan menggunakan kata penghubung dalam karangan deskripsi Siswa Kelas V SD X menggunakan kata penghubung antara lain:
    1. Kata penghubung yang.
    2. Kata penghubung dengan.
    3. Kata penghubung untuk.
    4. Kata penghubung dan.
    5. Kata penghubung seperti.
    6. Kata penghubung jika.
    7. Kata penghubung karena.

    1.3 Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian sebagaimana telah dikemukakan pada latar belakang masalah yang berkaitan dengan kata penghubung, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
    1. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung yang dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    2. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung dengan dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    3. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung untuk dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    4. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung dan dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    5. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung seperti dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    6. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung jika dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?
    7. Bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung karena dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X?

    1.4 Tujuan Penelitian


    Dalam penelitian, tujuan dibedakan menjadi dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
    1.4.1 Tujuan Umum
    Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menggunakan kata penghubung dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    1.4.2 Tujuan Khusus
    1. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung yang dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    2. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung dengan dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    3. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung untuk dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    4. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung dan dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    5. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung seperti dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    6.  Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung jika dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.
    7. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan menggunakan kata penghubung karena dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X.

    1.5 Manfaat Penelitian


    Penelitian tentang kemampuan menggunakan kata penghubung ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti sebagai bahan acuan pengembangan kajian kaidah tata bahasa Indonesia di sekolah, oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

    1.Siswa
    • Siswa diharapkan menggunakan dan mampu menggunakan kata penghubung dalam karangan deskripsi secara baik dan benar.
    2.Guru
    • Guru diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang kata penghubung dan mengkaji lebih jauh permasalahan dan penggunaan kata penghubung dalam karangan deskripsi.
    3. Peneliti
    • Bagi peneliti diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tentang penggunaan kata penghubung dalam menyusun karangan deskripsi yang baik dan benar.


    1.6 Penjelasan Istilah


    Supaya terdapat kesatuan pandangan dan menuju satu pikiran perlu adanya penjelasan istilah. Dalam penelitian ini konsep yang perlu ditegaskan adalah :
    1. Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, atau kepandaian menyelesaikan sesuatu berdasarkan tujuan (Poerwadarminta, 1984:628)
    2. Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat (Chaer, 2000:140).
    3. Karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek dengan tujuan agar pembaca seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu (Kosasih, 2002:33).
    4. Siswa kelas V SD X adalah semua siswa kelas V yang bersekolah di SD X.
    5. Jadi, kemampuan menggunakan kata penghubung dalam karangan deskripsi siswa kelas V SD X adalah kemampuan siswa kelas V SD X dalam menggunakan kata penghubung pada karangan deskripsi, sehingga tidak akan menimbulkan penafsiran yang salah pada judul skripsi.